Hari ini hari Jumat, hari yang cukup spesial di mana teman2 yang exam cuman ada 2 timeslot, jam 9.00-11.30 dan 14.30-17.00 saja. Dan terlebih spesial karena pagi hari bisa bangun pagi, mendoakan teman yang sedang berpusing ria mempersiapkan diri melangkah menuju ruangan ujian, dan bahkan membawakan renungan EPM. Renungan yang kubawakan ini kupersiapkan cukup lama karena topik yang sulit dan pengalaman yang kurang (ini kesempatan pertama bawain renungan EPM). Renungannya kira2 mencakup poin2 berikut:
- Manusia yang diciptakan menurut citra Allah sudah rusak dan berdosa, sehingga konsep nilai yang menempel dalam diri manusia sudah rusak.
- Manusia adalah satu2nya makhluk yang diciptakan dengan kemampuan menilai, baik menilai objek di luar dirinya maupun menilai dirinya.
- Menilai diri jauh lebih mulia karena diri manusia diciptakan untuk kekekalan.
- Dalam kesempatan yang singkat dalam kekekalan yang panjang, Tuhan memberi talenta, kesempatan kepada kita untuk dikerjakan sebaik2nya. Sudahkah itu ditemukan semua dan diolah dengan baik? Atau kita buang2 anugrah Tuhan?
- Kalau kita belum ketemu semua talenta kita dan apa yang dikerjakan belum maksimal, kenapa harus iri hati? Kenapa harus minder?
- Diri kita akan dinilai Tuhan sebagai examiner sejati hidup kita.
- Dengan talenta, apa kita sudah bersyukur dan kita bisa bawa itu kepada Tuhan dengan rasa sukacita dan puas akan apa yang kita kerjakan?
- Contoh self esteem dari Tuhan Yesus: Ketika memulai pelayanan dan disukai banyak orang, Yesus tidak merasa diri-Nya superstar yang harus punya banyak fans dan selalu tampil. Tapi ketika Dia mengusir pedagang2 dari Bait Allah, Dia memang harus menunjukkan diri-Nya adalah Allah dan tidak boleh tidak tampil.
- Percuma saja kalau exam dapat A tapi Tuhan menilai kita dengan F.
Fiuh, sungguh pergumulan yang sangat berat dalam membawakan bahan seberat ini, terlalu banyak yang aku tahu itu benar, tapi aku nggak pernah melakukan itu. Sedangkan "tahu" dalam tuntutan Tuhan kan berarti tahu secara kognitif dan aplikatif. Ga bisa bayangin hamba Tuhan yang mempersiapkan khotbah selama 1 jam bergumul berapa lama, saya yang membawa renungan 15 menit saja (akhirnya jadi 25 menit sih) perlu persiapan hampir 4 hari untuk memikirkan hal-hal yang harus diomongkan. Dan lebih ga bisa bayangin lagi pergumulan mereka yang berkhotbah tentang hal2 yang sangat berat yang mungkin belum tentu bisa mereka kerjakan. Fuih.. But overall I enjoy this sharing.
Berikut adalah beberapa komentar tentang teman2 yang kutanya pertanyaan yang sama; "Renunganku tadi gimana?"
- "Oke lah, sangat aplikatif, dan apalagi kalimat terakhirnya yang percuma kalau exam A tapi Tuhan menilai F, nancep banget" -- GUS
- "Bagus kok, uda pernah bawain renungan ya?"--JK
- "Nggak banyak sesat sih, paling cuman 1 aja, dualisme antara duniawi dan rohani." -- IPG
- "Itu tadi renungan ya? Gw kira lawak. Hahaha. Nggak kok, ngerti kok.. Apa ya poinnya? Hmm, hmm (lama banget baru jawab T.T)" -- AK
- "Bagus, tapi kamu juga sama kayak aku, banyak pake bahasa yang sulit, ga mudah dipahami orang. Dan dalam renunganmu bisa ada filsafatnya (seseorang Prancis, aku lupa namanya)." -- HSS
Yah sebegitulah komentar temen2 yang bisa kuingat. Semoga akan menjadi refleksi bagi diri saya sendiri. Dan setelah itu saya ngebench dan ngegeje. Dan taulah sendiri, ga belajar dan mengganggu orang L. Maafkan saya haibara dan HSS T.T